Tapi Saya Belum Makan..

“Permisi,”

“Ya, Nona?”

“Maaf, Pak.. saya bukan bermaksud menguping, tapi kan ini kafe outdoor ya, dan karena meja kita sebelahan, saya mendengar percakapan Anda dan perempuan yang tadi duduk bersama Anda.”

“Oh yang barusan pergi? Iya, tidak apa-apa.”

“Dia sepertinya kurang sehat, ya?”

“Iya. Tadi dia mengeluh sakit kepala.”

“Ah.. pantas.. jadi itu alasan Anda tiba-tiba datang ke mejanya dan menawarkan obat sakit kepala?”

“Ya, saya tawarkan obat ini. Gratis. Ini obat sakit kepala yang akan segera mengatasi sakit kepala langsung di pusatnya.”

“Wow, Anda baik sekali. Tapi maaf, jika boleh saya bertanya, mengapa wanita tadi terlihat begitu kagum?”

“Haha.. ya..seperti biasa, dia mengeluh, ‘tapi kan saya belum makan..’”

“Lalu?”

“Ya karena itu lah saya katakan mengapa obat sakit kepala yang saya bawa ini adalah yang terbaik. ‘Obat ini bisa diminum kapan saja.’

“Kapan saja?”

“Kapan saja.”

“Luar biasa. Umm.. maaf, boleh saya pindah ke meja Anda?”

“Silakan. Mau saya pesankan kopi lagi?”

“Tidak perlu, terima kasih.”

“Okay, No problem.”

“Jadi begini. Saya mau obat Anda..”

“Tidak masal—“

“…Karena saya punya sebuah tumor payudara.”

“Eh..!? Punya.. apa?”

“Tumor payudara. Di payudara sebelah kiri. Sudah berkembang menjadi kanker stadium 3. Diameter 5 cm, amat sangat dekat dengan kelenjar getah bening di ketiak. Ganas, kata dokter.”

“Er.. waduh. Saya turut prihatin akan kondisi Nona..”

“Ya..”

“..Lalu?”

“Lalu apa?”

“Lalu.. kenapa Anda memberi tahu ini ke saya, Nona? Saya bukan ahli kanker.”

“Seperti yang tadi saya bilang. Saya mau obat sakit kepala Anda.”

“Err.. memang Nona sakit kepala?”

“Tidak.”

“Lantas untuk apa?”

“Untuk menyembuhkan tumor saya.”

“Eh, maaf Nona, bukan saya tidak mau membantu, tapi obat ini tidak bisa diminum orang yang terkena tumor payudara.”

“Oh, begitu? Saya kira ini obat yang bisa diminum.. kapan saja.”

“Err..Ya, memang.”

“Berarti termasuk saat seseorang terkena kanker, kan?”

“Err, tidak, tidak.. konsepnya adalah.. emm.. obat ini tidak akan berefek apa-apa untuk orang yang memiliki tumor payudara.”

“Okay kalau begitu, bagaimana kalau Anda saja yang meminumnya?”

“Saya? Meminumnya?”

“Ya. Sekarang.”

“Haha, saya rasa tidak perlu.”

“Lho, kenapa?”

“Kenapa? Ya untuk apa?”

“Ya, Anda tidak memiliki tumor payudara, kan?”

“Tidak.”

“Ya berarti Anda bisa meminumnya?”

“Ya kalau mengikuti logika itu sih memang bisa, tapi saya tidak sakit kepala.”

“Tidak sakit kepala? Jadi obat ini hanya bisa diminum orang yang sakit kepala?”

“Er.. ya dong?”

“Saat sedang sakit kepala?”

“..Maksudnya?”

“Maksud saya, berarti obat ini hanya bisa diminum dalam kondisi tertentu, ya? Contohnya tidak bisa saat kanker, tapi bisa saat kita sakit kepala?”

“…Umm.. i.. i.. iya, tentunya. Obat sakit kepala hanya bisa diminum oleh orang yang sakit kepala, bukan?”

“Bisa kah diminum saat kita tidur?”

“Hah..?”

“Obat ini. Bisa kah diminum saat kita tidur?”

“Tidak.”

“Saat puasa?”

“Apa maksud..Ya tentu tidak.”

“Bagaimana jika diminum para pengungsi korban bencana alam saat mereka sedang kelaparan? Bisa kah obat ini membantu?”

“Er.. ya tentu tidak..”

“Jika suatu saat krisis ekonomi global melanda?”

“Tidak ada hubung—“

“Bagaimana jika tsunami datang mendadak?”

“Maaf, apa yang Nona sedang coba sampaikan, sih!?”

“Maaf sekali kawan, menurut saya Anda perlu meng-konstruksi ulang positioning produk obat ini, atau Anda penipu.”

Sorry!? Penipu?”

“Ya. Penipuan publik. Fraud.

Fraud!?…Dengar, Nona. Obat sakit kepala diciptakan untuk diminum oleh orang yang sakit kepala!! Semua orang tahu itu. Saya tidak mengerti kenapa Anda membuatnya terdengar begitu sulit. Yang saya jual kepada perempuan tadi adalah keunggulan obat ini yang bisa diminum walaupun ia belum makan!”

“Kalau begitu katakanlah apa adanya!”

“Ya memang itu yang saya lakukan!”

“Lantas kalau memang obat ini bisa diminum kapan saja, kenapa banyak sekali batasannya?? Seperti tidak bisa menyembuhkan kanker??”

“Ya karena ini obat sakit kepala!”

Yang bisa diminum kapan saja, kalau saya kutip kata-kata anda!”

Ya tidak persis seperti itu, memang.. Tapi..”

FRAUD!

“..Mohon maaf sekali, Nona, tapi sepertinya kita membuang-buang waktu di sini. Dari lubuk hati saya yang terdalam, saya prihatin akan kondisi Nona, sungguh. Tapi saya tidak bisa menolong Anda. Anda harusnya berkonsultasi kepada oncologist, ahli kanker!”

“Oh tidak, tidak, tidak… Saya tidak perlu pergi ke oncologist, Anda tahu kenapa? Karena sejujurnya saya tidak punya tumor di payudara saya.”

“Maaf?”

“Ya. Tidak ada tumor. Saya sehat dan baik-baik saja.”

“Lantas apa yang–?”

“Yang saya punya adalah rasa muak terhadap orang-orang yang seenaknya menjanjikan kemampuan suatu produk tanpa berpikir bahwa itu bisa menjadi informasi yang misleading!”

“Saya tidak paham apa yang—“

FRAUD! FRAUD! FRAUD!”

“Cukup! Saya minta Anda pergi sekarang juga!”

“Ah, ini artinya Anda akan mengubah unique selling point obat sakit kepala anda, ya?..”

“Saya bilang, pergi.”

“..Agar bunyinya menjadi: ‘Hanya dapat diminum oleh dan hanya oleh mereka yang sakit kepala, tapi aman jika perut mereka sedang dalam keadaan kosong’?”

“Saya tidak mau bicara lagi dengan Anda, Nona. Saya permisi.”

“Eh, tunggu! Jangan pergi!”

“Kita tidak ada pembicaraan lagi..”

“Ya, tapi saya tetap mau obat sakit kepala Anda…”

“Saya tidak akan memberikannya. Lebih baik saya pergi. Selamat siang.”

“Tidak tidak, duduk lah.. saya benar-benar butuh. Saya akan beli.”

“…Beli?”

“Ya. Saya akan beli. Perempuan yang tadi mungkin bisa mendapatkannya dengan gratis. Tapi saya akan beli.”

“Untuk apa?”

“Sejujurnya, saya memang sedikit pusing..”

“…..Ini bukan lelucon, nona.”

“Tentu bukan. Tadi saya hanya bergurau. Saya akan bayar obatnya.”

“Janji?”

“Janji.”

“Kalau sampai Anda menjebak saya lagi..”

“Tidak, tidak… saya hanya berpikir, saya melihat perempuan tadi langsung terlihat membaik seketika setelah Anda beri pil itu. Saya ingin mencobanya karena kebetulan saya sedikit pusing. Itu lah mengapa saya memberanikan diri menyapa anda. Saya cuma ingin lihat seberapa percaya dirinya Anda dengan produk yang Anda tawarkan.”

“…Okay kalau begitu. Tapi ingat. Jika Nona melakukan seperti yang tadi lagi, perusahaan farmasi tempat saya bekerja akan mencari Nona dengan segala kemampuan kami, dan Anda akan kami tuntut atas pencemaran nama baik. Deal?

Win-win.

Deal?”

“Deal.”

“Baiklah….. ini obatnya.”

“Terima kasih.”

“Air?”

“Ah, boleh.. saya minum, ya?”

“Silakan..”

“Ah….mudah ditelan ya?”

“Ya. Betul………….. nah, bagaimana rasanya sekarang?”

“Hilang! Saya tidak pusing lagi! Wow!”

“Senang mendengarnya.”

“Terima kasih banyak!”

“Sama-sama.”

“Jadi berapa saya harus bayar?”

“Lima ratus juta Rupiah.”

Advertisements

10 thoughts on “Tapi Saya Belum Makan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s