Cepat Ditangkap, Jangan Diberi Ampun

Suatu hari di sebuah hutan yang tidak spesifik, dua sosok sedang berjalan bersama menuju sebuah pesta ulang tahun; melewati jalan setapak kecil. Satu hewan, yang lain manusia. Keduanya berbicara.

“Jadi nanti bakal ramai, ya?” si Kancil—sambil berjalan cepat dengan keempat kakinya yang kurus—bertanya; karena kalau tidak, perjalanan ini bakal hening begitu saja.

“Seru juga, Kutilang mau bikin acara seperti ini. Jarang-jarang aku dapat undangan ke pesta ulang tahun.”

Tidak pernah ada yang mau mengundang Kancil ke acara ulang tahun.

Berjalan di samping Kancil adalah Kapiten; satu dari dua housemate Kancil yang tinggal serumah dengannya. Kapiten berpostur tegap, berpedang panjang, dengan langkah yang sangat tegas; kontras dengan langkah si Kancil.

Prok, prok, prok.

Bunyi langkah yang akan membuat siapapun tahu bahwa Kapiten sedang berjalan mendekat; atau ya, bahwa Kapiten pakai sepatu boot mahal.

Kulit impor.

Trenggiling, kalau tidak salah.

“Yang kudengar sih, begitu. Semua akan hadir. Kutilang itu disukai banyak orang. Siapapun pasti akan datang memenuhi undangan pesta ulang tahunnya,” Kapiten menjawab cepat di sela-sela nafasnya yang terengah.

Sial, pikir si Kapiten. Capek juga. Ternyata berjalan sigap perlu usaha. Boot-ku harus dicuci habis ini.

Kancil dan Kapiten berjalan menuju undangan pesta ulang tahun Kutilang, salah seorang penghuni hutan.

Atau itu yang Kancil kira sedang mereka lakukan.

“Begitu, ya? Baik sekali ya dia, aku boleh ikut datang. Padahal yang diundang kan kamu. Kamu yang kenal dia,” Kancil melanjutkan.

Kancil berjalan lebih santai dari Kapiten. Mungkin ini karena Kapiten jarang berjalan melewati hutan. Kancil sudah biasa; ini memang medan miliknya.

Dalam hati, sebenarnya, Kancil ingin menertawakan Kapiten yang memilih pakai boots mahal ke hutan. Tapi kemudian Kancil berpikir, ia sendiri belum pernah punya boot mahal. Kalau ia punya, mungkin ia juga akan memakainya ke mana pun ia pergi; termasuk hutan. Jadi rasanya tidak adil untuk bilang kalau si Kapiten ini bodoh. Mungkin Kancil hanya iri. Iri terhadap boots mahal milik Kapiten, atau pada pedang panjang yang tergantung di sabuknya. Kancil belum bisa memutuskan mana yang membuatnya iri; dan mana yang lebih membuat Kapiten seorang kapiten.

“Tidak masalah. Nanti kukenalkan, dan kamu bisa nilai sendiri, betapa baiknya dia. Friendly, si Kutilang itu.” jawab Kapiten.

Argh, jauh. Kenapa sih tidak pilih yang lebih dekat saja? Oh iya. Terpencil. Itu tujuannya. Huh. Brengsek. Ini capek. Keluh Kapiten dalam hati.

“Si Cicak bilang kenapa dia tidak bisa ikut?” mencoba mengalihkan fokus dari perasaan iri terhadap housemate-nya, Kancil bertanya soal housemate mereka yang satu lagi; yang sepertinya juga diundang Kutilang, tapi memilih untuk tidak ikut.

“Biasa. Hobi barunya.” Kapiten cuma bisa jawab yang pendek-pendek. Nafasnya hampir habis, boot-nya penuh tanah.

“Ah, iya. Hobinya. Berkebun. Bagus juga sih, hobinya itu. Petakan di belakang rumah kita jadi tidak kosong.” Respon Kancil, terdengar setuju.

“Ya. Penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Sepertinya setiap hari dia siram semua.”

“Ya, ya. Aku tahu itu. Mawar, melati..”

“Semuanya indah.” -tutup Kapiten, seiring ia menghentikan langkahnya- “Fiuh, ini dia! Sampai juga kita.”

Kancil tersadar bahwa mereka sudah tidak lagi berada di jalan setapak. Ia dan Kapiten berhenti di depan sebuah gubuk usang entah di mana.

***

Gubuk itu jelek, pohon-pohon di sekitarnya kering dan rontok. Ada asap-asap tipis, dan juga suara gagak tanpa terlihat secara fisik gagaknya di mana. Semua teratur begitu efektif; hingga tercipta atmosfer yang akan membuat siapapun yang berada di daerah ini merasa bahwa mereka telah membuat keputusan yang salah.

“Ini… rumah Kutilang?” Kancil sangsi.

“Iya, ayo masuk.” Kapiten menjawab sambil mendekati pintu gubuk itu.

Ia menoleh ke belakang, Kancil tidak bergerak sedikit pun.

“Cil? Ayo masuk… kok diam?” nada suara Kapiten sedikit bergetar.

“Tidak apa-apa, aku kira tadinya bakal lebih….”

“Lebih… apa?”

“Tidak, tidak apa-apa,” Kancil menjawab pelan sambil berjalan mendekat.

Kapiten membuka pintu dan melangkah masuk. Kancil mengikuti.

Mereka melangkah masuk ke bagian dalam gubuk tersebut. Tidak ada siapa-siapa, hanya ruangan kosong yang gelap, dipenuhi dengan aroma kayu yang lapuk.

Tidak ada pesta.

Tidak ada ulang tahun.

Apalagi Kutilang.

Klik. Kapiten mengunci pintu gubuk di belakang Kancil dan menggemboknya. Kancil menoleh. Sulit bagi Kancil untuk mempercayai ini.

Gubuk jelek punya gembok.

Namun sebelum Kancil sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, terdengar suara yang tidak asing bagi Kancil.

“Hai, Kancil,” kata suara itu, dalam.

Kancil tidak bisa melihat siapa-siapa; walaupun pupilnya sudah mulai meraba bentuk objek-objek yang ada di dalam gelap ruangan itu. Kancil tidak tahu suara itu datang dari mana.

“Di sini, Cil. Di atas.” suara tersebut berkata lagi.

Kancil mendongak. Di langit-langit. Ada yang bergerak. Kancil memicingkan mata untuk melihat lebih jelas.

Sesuatu atau lebih tepatnya seseorang- itu bergerak di langit-langit dan melompat ke arah di mana Kancil berdiri. Di tengah udara Kancil bisa melihat tubuh kecil yang ia kenal; dengan badan berlendir itu, serta ekor yang sudah berulang kali putus-tumbuh-putus-tumbuh. Keraguan Kancil sirna. Ya, ia kenal makhluk ini.

Plok. Dengan bunyi lembut, Cicak mendarat di hadapan Kancil.

“Hai, Kancil,” kata Cicak, sama dalamnya. Suaranya terdengar sungguh lantang untuk ukuran reptil rumahan; serius, besar tubuhnya tidak lebih tinggi dari kuku kaki Kancil.

“Tadi kamu sudah bilang itu.” Kapiten bersuara sambil berjalan dari arah pintu, mendekat ke arah Cicak dan berdiri di sampingnya.

“Tapi dia belum jawab.” Jawab Cicak, tersenyum.

Kancil menghembuskan satu nafas pelan, kemudian menatap kedua housemate di hadapannya. “Hai juga, Cicak.”

Kancil masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Tapi satu hal sudah ia yakini dalam benaknya kali ini; selain bahwa ya, pilihan sepatu Kapiten untuk berjalan di hutan terlalu bodoh.

Jangan pernah percaya housemate-mu 100%.

“Maaf, soal boot-mu, Kapiten.” Cicak menyadari bahwa boot Kapiten penuh tanah. “Aku harus mencari tempat yang tidak terlalu mencolok agar ini bisa berhasil. Aku tidak menyangka tadi malam akan gerimis, sehingga tanah di jalan setapak itu–“

“Tak apa, kawan. Habis ini bisa kucuci.” jawab Kapiten maklum.

Sekarang keduanya, baik Kapiten maupun Cicak menatap Kancil.

“Kancil, kawanku, maafkan kami harus membawamu ke dalam gubuk tak berpenghuni ini. Kami butuh tempat untuk berbicara padamu. Tempat yang sepi, jauh dari keramaian.” Cicak berusaha berbicara setegas, namun sehangat mungkin.

“Aku masih belum paham.” Kancil merendahkan kepalanya ke dekat Cicak yang masih diam di lantai. “Pesta ulang tahun si Kutilang—“

“Adalah skenario yang aku dan Kapiten rancang untuk membuatmu mau berpergian jauh dari rumah kita.” Sanggah Cicak.

“Tapi.. tapi.. tapi kau bilang kau teman si Kutilang, Kapiten!” Kancil kembali mengangkat kepalanya.

“Aku dan Cicak merasa bahwa kami perlu membuat sebuah rencana yang detil, rencana yang benar-benar matang, walaupun itu berarti harus membuat karakter rekaan.” Kapiten menjelaskan.

“Maksudmu?” tanya Kancil.

“Tidak ada Kutilang, Kancil. Kutilang hanya nama seekor unggas yang kami tahu tinggal di pucuk-pucuk pohon cempaka di hutan ini. Yang mereka lakukan hanya bersiul sepanjang hari, tanpa jemu. Sudah. Bicara pun tidak bisa.” Jawab Cicak.

“Lalu, pestanya?” Kancil ingin ini semua terjawab.

“Kami pikir, akan lebih masuk akal kalau kami buat seolah kami berteman dengan salah satunya, dan ia mengundang semua penghuni hutan untuk datang ke pesta ini.” Kapiten membuat semuanya jelas bagi Kancil.

Ada hening, di mana di dalamnya mulut Kancil sedikit menganga.

Tapi tidak lama. Cicak menyudahi hening tersebut dengan membuka maksud hati darinya dan Kapiten.

“Kancil, kawanku, kami di sini ingin berbicara padamu dari hati ke hati soal ketergantunganmu terhadap ketimun.”

***

Kancil tersedak, “Ketergantungan? Maksudmu, adiksi?”

“Ya,” kata Kapiten.

“Oh tidak, tidak, tidak.. teman-teman, Aku suka ketimun, tapi—“

“Kancil, tiga bulan terakhir kelakuanmu berubah, jauh seperti Kancil yang aku dan Cicak kenal.” Kapiten menatap Kancil, berusaha terdengar setenang mungkin.

“Awalnya kami tidak mau terlalu cepat berprasangka, tapi halaman depan surat kabar Senin kemarin membuatku dan Kapiten berpikir bahwa perkiraan kami tidak salah lagi,” kata Cicak.

Kapiten mengeluarkan sesuatu dari balik seragamnya yang terlihat seperti gulungan surat kabar. Ia membukanya lebar-lebar di lantai di mana Kancil bisa membaca headline-nya dengan jelas.

SEORANG NENEK TEWAS TERKENA SERANGAN JANTUNG SETELAH MELIHAT TANAMAN KETIMUN YANG ALMARHUM SUAMINYA TANAM SEBAGAI HADIAH ULANG TAHUN PERNIKAHAN HILANG DARI PEKARANGANNYA PADA MINGGU PAGI’

 Kancil terdiam beberapa saat.

“Kalian.. kalian tidak serius menganggap bahwa aku yang melakukannya, kan?” Kancil akhirnya bertanya kepada kedua temannya.

Retoris. Tentu saja mereka berpikir aku yang melakukannya. Gubuk usang. Sepi. Jauh di hutan. Tidak mungkin aku dijebak seperti ini kalau ada alasan lain.

“Cil..”, Kapiten berkata pelan.

“Bisa saja gagak liar. Atau kelinci. Atau—“

“Kancil, kawan, kami bukan sembarangan menuduh. Aku dan Cicak menganalisa banyak hal sebelum akhirnya kami berkesimpulan bahwa kecintaanmu terhadap ketimun agak sedikit di luar kendali,” Kapiten melanjutkan.

“Ingat bagaimana kamu terus menanyakan kabar Paman Agung?” Cicak bertanya.

“Paman Agung?” Kancil terdengar heran tapi juga sedikit tersentak.

“Ya, Paman Agung. Pamanku.” tegas Kapiten.

“Selama dua bulan terakhir kau selalu menanyakan kabarnya setiap hari. ‘Apa kabarnya pamanmu, Kapiten? Paman Agung? Kapan ia berkunjung ke sini lagi?’ – Setiap hari.” Cicak melanjutkan.

“Ya, apa salahnya aku menanyakan kabarnya? Aku menyenanginya. Ia seorang pria yang baik. Hangat. Humoris..” ada nada gusar dalam suara Kancil. “Seniman yang luar biasa pula.”

“Tapi bukan itu alasan kenapa kau terus-terusan menanyakan kabarnya, kan?” Kapiten menangkas cepat.

Cicak melanjutkan, “Kamu berulang menanyakan kapan Paman Agung karena kamu ingin tahu, kapan secepatnya kamu bisa menikmati ketimun segar lagi yang dibawa dari desa. Ya kan? Pertama kali Paman Agung datang berkunjung untuk menengok Kapiten..”

“Pamanku dari desa. Ia berkunjung untuk tahu bagaimana kabarku. Dia seorang wirausaha agrobisnis di desaku.” Kapiten lanjut berbicara tanpa memberikan kesempatan untuk Kancil menyanggah. “Itu lah mengapa waktu ia berkunjung dibawakannya rambutan, pisang, dan sayur mayur segala rupa.”

“Dan tentunya, ketimun.” kata Cicak.

“Ya, ketimun yang kau coba makan dan membuat matamu terbelalak seolah kamu belum pernah merasakan sayur seumur hidupmu.” kata Kapiten.

Ada hening lagi.

Kancil bisa merasakan bahwa kedua temannya menyampaikan hipotesa ini bukan tanpa tegang.

***

Kancil membuka mulutnya kembali.

“Teman-teman, aku—“

“Ada yang mau kamu sampaikan juga kan, Cicak?” Kapiten kembali berkata seolah tidak mendengar Kancil yang baru saja memulai kalimatnya.

Cicak melompat ke arah kaki Kapiten dan merayap cepat ke atas, lalu berhenti di pundak Kapiten. Dari sana ia menatap wajah kancil; yang kali ini sejajar.

“Kancil, kamu ingat ulang tahun Alina yang terakhir? Minggu lalu?” Cicak mendesis, bertanya.

“Alina? Pacarmu? Err—ya, ya, aku ingat.. Kenapa dengan Al—“

“Ingat aku minta tolong apa padamu saat itu?”

“…Ingat.”

“Apa?”

“Mengantarkan kado yang kau belikan untuknya? Karena kamu lembur dan tidak sempat mengantarkannya sendiri?”

“Betul. Dan kau ingat apa kadoku untuk Alina?”

“err—balon?”

Lima balon, Kancil. LIMA.” Suara Cicak sekarang terdengar keras. “Tapi kelima balon tersebut tidak pernah sampai ke rumah Alina.” Cicak menarik napas dalam, lalu melanjutkan. “Yang sampai cuma empat.”

“Pelan-pelan, kawan.” Kapiten mencoba menenangkan Cicak.

“Kuning, Kelabu, Merah muda, Biru.” Cicak tidak berhenti. “bukankah harusnya ada satu warna lagi di balon-balon kadoku untuk Alina, Cil?”

Kancil menelan ludah, “Ya…… Hijau.”

“Dan ke mana balon yang hijau itu? Lepas?”

“Tidak. Kupegang erat-erat ketika aku mengantarkannya.”

“Sampai ke rumah Alina?” tanya Kapiten.

“..Ya,” jawab Kancil.

Kapiten mengeluarkan sebuah balon berwarna hijau dari dalam seragamnya.

Astaga, pikir Kancil. Apa saja, sih, yang si bodoh ini simpan di balik pakaiannya. Pantas saja jalannya berat.

“Lihat mataku dan katakan kenapa balon hijau ini bukan ada di rumah Alina. Kenapa, Kancil?” tanya Cicak sambil sedikit maju.

“Teman-teman, sungguh, aku tidak paham apa yang kalian bicarakan.“ Kancil berkeringat.

“Kancil, aku dan Cicak kemarin berjalan-jalan melewati beberapa toko di balai kota, dan ketika kami melewati sebuah toko mainan, kami melihat balon hijau ini. Balon hijau yang seharusnya ada di rumah Alina. Bukan di toko.” kata Kapiten.

“Kancil, kelima Balon yang kuhadiahkan kepada Alina masing-masing memiliki inisial namanya di bagian bawah. Kutulis sendiri menggunakan nektar. Hijau untuk A, Kuning untuk L, Kelabu untuk I, Merah muda untuk N, dan Biru untuk A, Cil. A-L-I-N-A.” Cicak menjelaskan. “Ketika aku dan Kapiten melihat di toko itu ada balon hijau bertuliskan abjad A yang ditulis dengan nektar, kami tahu ada sesuatu yang tidak beres.”

“Kau menjual balon itu untuk kau tukarkan dengan uang, sehingga kau bisa beli ketimun. Ya kan, Cil? Kancil, kau mengambil barang milik orang lain dan menjualnya untuk memenuhi nafsumu. Itu perilaku seorang pecandu,” kata Kapiten, tegas.

Cicak melompat dari bahu Kapiten dan mendarat lembut di moncong Kancil.

“Kancil, kawan, kami tidak marah padamu. Kami ingin membantumu. Kami mengerti ketimun adalah sayuran favoritmu, tapi jangan sampai begini caranya. Akui saja, dan kami akan membantumu keluar dari ketergantunganmu.”

“Kami cuma tidak mau apa yang terjadi pada anak gembala desa sebelah terjadi padamu.” Kapiten menambahkan.

“Anak gembala desa sebelah?” Kancil bertanya. Bukan bertanya tidak tahu, tapi lebih ke, kamu bercanda?

Anak gembala desa sebelah adalah kisah yang cukup tragis. Ketiganya tahu itu. Seluruh hutan tahu. Hilang di pegunungan setelah berjalan sendirian di tengah malam dalam tidurnya.

Sakaw, kata para penyelidik.

Ketagihan daging kambing.

Ia ditemukan dehidrasi dan terkulai lemas di puncak gunung yang tinggi, tinggi sekali. Penyelidik dan polisi menemukannya berada di antara pohon-pohon cemara yang ada di kiri dan kanan jalan setapak gunung tersebut, sambil menggumam, ‘mana… di mana…. di mana anak kambing saya..’

Anak yang malang.

“Tentu saja aku tidak akan membiarkan diriku sampai sejauh itu! Kecintaanku terhadap ketimun tidak sampai seekstrim itu!” suara Kancil meninggi. “Baiklah! Baik kalau begitu! Kalau memang kalian takut aku akan bernasib sama, baiklah! Mulai sekarang aku akan berhenti makan ketimun!”

Teriakan Kancil menggaung.

Menggaung dan memantul dari dinding-dinding gubuk.

Kancil emosi, malas membela diri lagi.

Sudahlah, iyakan saja, pikir Kancil.

Kapiten dan Cicak tersenyum.

Sesaat kemudian, terjadi dengan begitu cepat, cahaya muncul dari berbagai sudut; dan terang.

Jendela-jendela yang tadinya tidak tampak ada, terbuka dan membawa masuk aroma hutan. Kancil menganga.

Dari dalam kabinet dapur, bawah tangga, bagian atas lemari, semua penghuni hutan melompat dan tersenyum.

Kancil memindai cepat dengan matanya. Semua yang ia kenal ada di situ. Tupai, Kelinci, Kera, Burung hantu, dan lain-lain, semua menggunakan topi lucu dan baju warna-warni.

Surprise!!!” teriak mereka bersamaan.

Confetti.

Balon-balon.

Kembang api.

Terompet.

Kancil terlalu sibuk merasa takut akan tuduhan Cicak dan Kapiten sampai ia lupa bahwa ini adalah hari ulang tahunnya. Ulang tahunnya yang keempat.

Kancil terduduk lemas di lantai. Setelah terkena sinar dan dilihat-lihat, gubuk ini tidak terlalu buruk.

“Selamat ulang tahun, Kancil!!” semua bersorak.

“Ketipu, ya?” Kapiten terbahak.

“Kalian…. Kalian gila.” Kancil masih lemas. Wajahnya penuh confetti. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum; antara lega atau heran.

“Ya, tidak ada salahnya kan, sekali-kali memberikan hari ulang tahun yang menyenangkan untuk housemate.” Cicak berkata.

 Kapiten dan Cicak sebenarnya hanya kasihan Kancil tidak pernah diundang ke pesta ulang tahun penghuni hutan yang lebih gaul.

“Kami tahu kamu bukan pecandu ketimun, Cil. Kami hanya iseng saja ingin mempermainkanmu. Lihat ini? Surat kabar ini? Ini berita palsu. Kami karang sendiri beritanya dan kami cetak sendiri halamannya.” Kapiten tertawa.

Bangsat, pikir Kancil.

“Hebat, kan? Oh, dan balon untuk Alina? Tentu kami buat-buat. Balon itu kelimanya ada di rumah Alina. Tapi kami ingin ada sedikit drama, jadi kami beli lagi satu agar bisa kami pakai untuk pura-pura menuduhmu. Hahaha.” Cicak tergelak.

Kapiten mengeluarkan sebuah pigura besar dari dalam seragamnya.

Serius deh, muat apa saja sih, seragam itu?

“Paman Agung mengirimkan ini. Selamat ulang tahun, kata beliau.” Kapiten menyerahkan kado dari pamannya kepada Kancil.

Kancil membalik pigura tersebut, dan yang terlihat olehnya adalah sebuah lukisan pelangi. Lukisan pelangi yang sangat indah dengan tulisan ‘Selamat Berumur Empat, Kancil!’ yang besar di bagian atas, serta tanda tangan di bagian kanan bawah yang berbunyi ‘Pelukismu, Agung.’

 Semua ini, semua usaha teman-temannya untuk membuat peringatan hari lahir Kancil menjadi istimewa, lewat perencanaan gila yang membuat pikiran Kancil masih membeku sampai sore, membuktikan banyak hal. Kancil disukai para penghuni hutan, Kancil memiliki teman-teman yang peduli padanya, Kancil bukanlah anak nakal pencuri ketimun, dan Kancil benar.

Jangan pernah percaya housemate-mu 100%.

***

Beberapa kilometer dari hingar-bingar surprise party ulang tahun Kancil, sebuah gubuk lain yang terlihat lebih terawat berdiri di atas petakan tanah yang subur.

Di terasnya, seorang wanita di usia senja sedang duduk menatap halaman depannya. Di sana tertanam tanaman ketimun yang segar, dan tampak sangat cantik; seperti sebuah hadiah pernikahan.

“Indah sekali, ya? Ia yang menanamkannya sendiri untukku. Tapi sekarang ia sudah terbang jauh sekali. Jauh, dan aku sendiri. Aku bersumpah akan terus menjaga pemberian ini. Ketimunku. Bisa kau bayangkan kalau ada yang mencoba mencuri ini dariku? Ha.. Ha.. Ha.. mungkin aku akan mati terkena serangan jantung. Tapi tidak. Tidak selama kita berjaga di sini.”

Si nenek berbicara kepada kakatua peliharaannya, yang bertengger diam di ambang jendela. Ia lalu menyeruput sisa tehnya, bersandar pada kursi goyangnya, kemudian tertidur nikmat, sampai mulutnya terbuka; menganga lebar.

Sangat lebar sampai kau bisa melihat bahwa giginya tinggal dua.

 

Advertisements

19 thoughts on “Cepat Ditangkap, Jangan Diberi Ampun

  1. I love it! So brilliant… I always love when people combine popular things into something unpredictable. Keep up your good work! Can’t wait to read more from you 😀

    Like

  2. Very nice hahaha I thought at first that this story is not my style but turns out a lot of funny lines and although I saw it coming (the ending), those funny lines are accepted so, claps!

    Like

      • Bang ryan adri sumantri kelas banget cerpennya perpaduan cerita mengubah persepsi seekor kancil yang nakal .. jahat dan liar .. menjadi WOW Brilliant terlebih dengan alur cerita dan katakata seperti peluksimu agung .. mawar melati .. yg sudah jarang kita dengar di era kekinian ini .. pantes bang jd juara 1 SUCI Briliant

        Like

  3. Jujur, setiap dengar/baca karya-karya kak Ryan, selalu spontan ngebatin “anjir, ada orang yang kepikiran sampe gini jauhnya, salut” (maaf ya kak, komennya agak kasar, ada ‘anjir’-nya. Namanya juga jujur, hehe)

    Like

  4. Kau terlau pintar buat seseorang yang pernah aku kenal. Dan gilaknya, aku selalu nyanyi untuk mengingat lirik bagian mana yg kau tulis untuk jadi bagian isi cerita. Keren kau Ryan!

    Like

  5. ngasal banget nih bang… saya bacanya sambil coba nyanyi-nyayi dan nginget-nginget lagu-lagunya hahaha. ternyata si Kancil bukan anak nakal yang suka mencuri ketimun yah. senang mendengarnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s